Ya Allah, Inikah Wajah Islam?

Anak-anak dilahirkan dalam keadaan suci, orangtuanya lah yang menjadikannya Islam, Nasrani, atau Majusi. Kurang lebih begitulah bunyi salah satu hadits Rasulullah. Aku lahir dari orang tua yang beragama islam. Maka, orang tuaku mengenalkanku kepada satu Tuhan yaitu Allah Swt dan mendidikku dengan iman Islam.

Di usiaku sudah berkepala dua, untuk pertama kalinya aku menonton film Life of Pi. Jika orang-orang terkesan dengan pengalaman Pi mempertahankan hidupnya di lautan lepas bersama seekor harimau, aku justru lebih terkesan dengan perjalanan keimanan Pi. Pi kecil adalah seorang Hindu, yang kemudian bersinggungan dengan agama Kristen dan Islam.

Perkataannya yang tak pernah kulupa adalah “terima kasih Wisnu, karena telah mengenalkanku pada Kristus” dan “aku belajar cinta dan kasih sayang dari Kristen dan ketundukan yang besar pada Tuhan serta persaudaraan ketika aku sholat”. Ketika Pi sudah dewasa dan ditanya seorang temannya karena dirinya mengucap “amin” (yang tidak umum bagi umat Hindu), Pi menjawab bahwa hal itu memang tidak umum kecuali bagi seorang Katolik-Hindu.

“kita tidak akan mengenal Tuhan sampai seseorang mengenalkannya pada kita. Aku pertama kali dikenalkan dengan Wisnu oleh orang tua-ku.” — Pi

Usai menonton film itu, aku lantas berkaca pada diriku sendiri. Aku mencoba kembali ke waktu-waktu sebelumnya. Ketika kita masih kecil, atau setidaknya sebelum akil balig, peran orang tua dalam keyakinan agama anaknya sangatlah besar.

Sadarkah kalian, darimana kalian mengenal Tuhan yang selama ini kalian sembah, jika bukan dari orang tua kalian? Siapakah yang mengenalkan Allah kepada kita jika bukan orang tua kita? Mungkin sebagian dari kita ada yang menjawab ustadz, guru ngaji di TPA, atau guru agama, tapi tetap saja orang tua-lah yang melabeli diri kita dengan Islam.

Atas seizin mereka, kita bisa menyebut diri kita muslim, belajar sholat, pergi ke TPA, sampai ikut takbiran keliling. Maka beragamanya kita ketika kita masih kecil adalah template dari orang tua kita. Atau seperti yang pernah ku dengar yaitu istilahnya agama warisan. Given.

Semakin aku beranjak dewasa, aku semakin menyadari bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang dapat diwariskan. Dia harus dicari, dipahami, diyakini, untuk kemudian berubah menjadi perbuatan. Tentu saja, kita tidak akan mungkin sanggup menjalankan ritual ibadah kita sepanjang hayat tanpa keyakinan dan memilihnya secara sadar.

Boleh dibilang, selama kuliah aku mengeksplorasi keimananku. Aku mengeksplorasi agamaku. Aku ingin memahami Islam dan melihatnya dari dekat. Meskipun itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Karena banyaknya aliran-aliran ataupun ideologi pergerakan yang berbeda-beda dari setiap aliran.

Aku belajar bahwa Islam adalah agama kedamaian dan menenangkan dari dakwahnya teman-teman tarbiyah. Aku mendapat pemahaman Islam sebagai sebuah ideologi dari para syabah dan syabab HTI. Aku merasakan spirit perjuangan Islam ketika diundang acara buka bersama dengan kakak-kakak KAMMI.

Dari luar dunia kampus, aku menemukan arti keterbukaan pemikiran dan bahwa muslim harus cerdas dari sosok Alm. Gus Dur. Aku menemukan kefitrahan Islam melalui esai-esai Cak Nun dan acara Mocopat Syafa’at-nya. Aku melihat persinggungan Islam dengan Sosialisme dari buku-buku Tan Malaka.

Pada akhirnya aku melihat wajah Islam yang berbeda-beda. Dari cara berpakaian hingga gaya komunikasi. Dari pemikiran sampai pensikapan atas suatu masalah. Aku menyerap semua keragaman itu dan kubiarkan pikiranku untuk menilai sendiri masing-masing pemikiran itu. Asal masih mengimani rukun Iman dan menjalankan rukun Islam, tidak penting bagi ku mana yang benar dan mana yang salah.

Sayangnya, aku tidak mampu menyelami semua keragaman tafsir itu. Pengetahuanku juga masih dangkal tentang pendalaman-pendalamannya. Tapi satu hal yang pasti keragaman tafsir ini nampaknya belum membuahkan hasil bagi dunia Islam.

Karena dunia Islam yang kukenal saat ini adalah dunia nomor sekian. Zakat ada untuk menjamin perputaran uang tapi kemiskinan justru mewarnai setiap kantong-kantong penduduk muslim. Belum lagi label terorisme yang, sampai sekarang pun aku tidak tahu, kenapa selalu dihubung-hubungkan dengan Islam. Aku alumni Biologi, dan ketika aku masih kuliah, aku terbiasa mencari literatur jurnal-jurnal ilmiah, tapi di saat yang sama aku tak terbiasa menemukan jurnal yang ditulis seorang muslim atau yang berasal dari negeri muslim.

Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang ukhuwah islamiyah. Media sosial yang mestinya dimanfaatkan untuk mengeratkan ukhuwah malah jadi sarana unjuk gigi golongan siapa yang paling benar. Kaum muslim sibuk berteriak atas nama golongannya masing-masing. Saling tuding, fitnah, dan menyalahkan atas segala situasi hingga mereka sibuk untuk melihat persoalan umat saat ini. Hanya melahirkan perdebatan-perdebatan tanpa kesimpulan apalagi solusi. Keragaman tafsir ini tidak dipahami sebagai hasil sebuah pengkajian, aktivitas intelektual, serta progresivitas. Tetapi terus dijadikan sumbu untuk saling terpecah-belah.

Kadang aku berpikir, kalau ulama-ulama atau cendekiawan-cendekiawan muslim itu jumlahnya banyak dan mereka mampu menerbitkan buku-buku fiqh ibadah, tuntunan sholat Nabi, bisnis ala Rasulullah, perbankan syariah, atau bagaimana membangun keluarga sakinah, mengapa mereka tidak bisa menelurkan pemikiran-pemikiran untuk solusi permasalahan umat saat ini?

Ketika aku mempelajari Islam lalu kutemukan beraneka warna Islam, aku melihatnya sebagai wajah Islam yang beragam. Islam yang hidup oleh buah pemikiran para ulama dan cendekiawannya. Tetapi melihat realita nasib umatku, aku mulai berpikir inikah wajah Islam yang sesungguhnya? Keragaman Islam itu ternyata hanyalah topeng yang indah dari wajahnya yang sebenarnya.  Topeng yang menghalangi kita untuk melihat wajah yang asli. Bahwa keterpurukan dunia Islam adalah kenyataan.

Aku berdoa semoga kelak ada tangan-tangan yang kuat untuk melepaskan topeng itu. Dan semoga aku termasuk didalamnya.

(Pernah dimuat di islamlib.com, 13 November 2015)

DOA MAS WAWAN

praying-child-1668636_960_720

“Aslmkm. Wati,,pye kbarmu dek? Pye kbar ibu? Iki Mas Wawan”

Subhanallah…Mas Wawan. Dengan senyum sumringah kubalas segera.

“Waalaikumsalam. Ya ampuun….Mas wawan J alhamdulillah apik mas. Ibu juga sehat. Mas ganti nomer to?”

Mas Wawan. Mas-ku satu-satunya. Mas-ku yang paling ganteng. Jail tapi ngangenin. Sekarang dia sudah tidak tinggal dengan aku dan ibu lagi. Mas Wawan kuliah di Bandung. Hanya waktu liburan semester atau libur lebaran saja Mas Wawan pulang ke rumah.

Bersama Mas Wawan, aku telah melalui masa-masa sulit. Itu juga yang membuat aku dengan Mas Wawan sangat dekat. Saling mengenal satu sama lain. Dari atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang, luar-dalam, aku sudah tahu seperti apa Mas Wawan itu. Sudah 17 tahun hidup bersamanya bukan berarti aku mengerti semua yang ada padanya. Ada sesuatu dalam diri Mas Wawan yang aku tidak bisa mengerti sampai saat ini. Sesuatu yang terjadi 10 tahun yang lalu.

***

Bantul, 1995

Laa ilaaha ilallah….Laa ilaaha ilallah…..Laa ilaaha ilallah…

Hari itu keluarga kami tengah berduka. Bapakku meninggal. Tiga hari sebelumnya, Bapak mengalami kecelakaan karambol di Jalan Wates. Terjadi pendarahan yang parah di kepala. Bapak koma sampai akhirnya meninggal tadi subuh.

Saat itu umurku 8 tahun dan Mas Wawan berumur 10 tahun. Umur kami memang masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Yang kami tahu saat itu hanyalah Bapak tidur di peti yang ditutupi kain hijau bertuliskan tulisan arab dan mendadak rumah kami yang kecil dipenuhi orang. Sebagian besar tetangga kami tapi ada juga beberapa teman kerja Bapak. Oh iya,,aku lupa satu lagi. Selain itu, yang kami tahu, ibu tak henti-hentinya menangis. Kalau ibu nangis-nya lagi kenceng….

“Wawan, wati,,kene karo Budhe”

Itu Budhe Narto, tetangga terdekat kami. Rumah Budhe Narto tepat berada di sebelah kanan rumah kami. Budhe Narto sangat baik dengan aku dan Mas Wawan. Budhe Narto suka ngasih kami makanan. Kadang kalo jualannya di Pasar beringharjo lagi laku-lakunya, aku sama Mas wawan suka dikasih baju batik. Kalau udah gitu, Ibu bakalan bilang…

“Walah…Budhe narto mboten sah repot-repot niki. Nanti jualannya rugi lho”.

Tapi Budhe Narto selalu berkilah “Rapopo…Wawan karo wati wis tak anggep anak dhewe kok”.

Mungkin itu semua karena Budhe Narto tidak punya anak dan hanya tinggal bersama rewang-nya.

Saat ini aku dan Mas Wawan sedang bersama Budhe Narto. Yaa…ibuku lagi nangis histeris. Beberapa ibu-ibu memegangi ibuku. Aku lihat Bapak yang dibungkus kain putih dikeluarin dari peti. Beberapa orang menurunkan Bapakku yang tak bergerak sama sekali ke dalam tanah. Setelah tali-tali yang ada di kain itu dilepas dan Bapakku tertutupi oleh papan-papan kayu, kami semua berdoa.

***

Setelah pulang dari kuburan Bapak, aku lihat ibu sudah jarang menangis. Ibu sudah lebih tenang meskipun tidak bisa disebut tenang juga. Sore itu, ba’da ashar, sekitar 10 bapak-bapak yasinan di rumahku. Ibu sibuk buat laden. Bolak-balik bawa baki berisi teh. Budhe Narto juga ikutan sibuk menata makanan-makanan dalam besek. Ada nasi gurih, ayam bumbu kuning, sambal goreng kentang, dan kedelai hitam. Jadilah aku dan Mas Wawan main sendiri.

“Hayooo kowe!” Aku mengageti Mas Wawan yang dari tadi ngelamun.

Mas Wawan keliatan kaget banget.

“Waah…semprul.” sambil dorong bahuku ke samping.

“Ngelamunke apa to Mas?”

Mas Wawan terdiam sejenak. “Kuwi…kalo ada orang meninggal tu akeh panganan yo”

Bener juga sih apa kata Mas Wawan. Mendadak banyak sekali makanan di rumah kami. Tidak hanya makanan yang dibagikan untuk tetangga tapi juga makanan yang tidak boleh dimakan. Maksudnya makanan sesajen. Ada jenang putih, wedang kopi yang warnanya hitam pekat, dan juga bunga-bunga tabur.

“delok kae, Wat. Biasane kan di rumah kita cuma makan tahu-tempe. Kok saiki ada ayam juga.” lanjut Mas Wawan sambil menunjuk baskom yang isinya penuh dengan ayam goreng.

Mendadak kita jadi anak gedongan. Paling dalam 1 bulan kita cuma makan ayam 3 kali. Itupun kadang-kadang juga oleh-oleh Budhe Narto dari kota.

“Eh,,Wawan, wati, kok meneng wae to nduk? Ayo ngewangi laden”

Tiba-tiba Ibu sudah ada di depan kami.

***

Hari-hari berlalu dengan sama kecuali tidak adanya lagi Bapak di rumah. Orang-orang masih banyak berdatangan ke rumah kami. Ibu-ibu tetangga sibuk memasak di samping rumah. Tumpukan besek masih menggunung di salah satu sudut rumah. Hanya saja hari ini  kelihatannya lebih sibuk karena sekarang adalah peringatan 7 harinya meninggalnya Bapak.

Bagi kamu yang bukan orang Jawa mungkin tidak biasa mendengar istilah peringatan 7 harian. Sebenarnya tidak hanya 7 harian, tapi juga 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari. Orang Jawa meyakini bahwa di hari-hari itu ruh orang yang meninggal berada di posisi-posisi tertentu. Budhe Narto pernah menjelaskan tentang itu ke aku dan Mas Wawan tapi aku lupa. Karena bagi kami saat itu bukan itu yang kami pahami.

Waktu itu kami sedang dolan dengan teman-teman rumah…

“Wan, jajan cilok yo” ajak Mas Raka yang sepantaran dengan mas Wawan

“Emoh ah, di rumahku wis akeh panganan. Enak-enak meneh”

“Wah…gelem aku”

“Yowis,,mas Raka melu neng ngomah wae yo” ajakku

“Hush…ra sopan kowe Ka. Kuwi wis ono jatah’e” Mas Lutfi, yang paling tua diantara kami dan yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara.

“Rapopo Mas Lutfi, banyak kok di rumah” kata Mas Wawan

“Ojo ah. Mesakke karo ibumu. Gawe panganan ki yo butuh duit. Mbok pikir ibumu ora ngetokke duit po?”

Kami langsung terdiam. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, aku memikirkan kata-kata Mas Lutfi. Ibu hanya guru TK yang gajinya tidak seberapa. Darimana Ibu bisa mendapat uang untuk peringatan kematian Bapak? Ini aja baru 7 harian. Masih ada sampai 1000 hari. Aku jadi resah memikirkannya. Kulihat Mas Wawan juga sedari tadi diam. Entah apakah dia juga memikirkan hal yang sama.

***

Tak terasa, 10 hari lagi adalah 40 harian Bapak. Aku sudah cukup terbiasa kalau malam hari tidak ada yang nonton bola keras-keras. Itulah kebiasaan Bapak. Tapi apa yang aku pikirkan saat itu benar terjadi. Sudah seminggu belakangan ini, kami makan dengan sangat seadanya. Tahu dan tempe bertransformasi menjadi kerupuk dan sambal. Kalau tidak sangat seadanya bahkan hanya satu kali dalam sehari.

Belakangan barulah aku tahu bahwa selama peringatan 7 harian Ibu mengutang tetangga-tetangga. Hutangnya pun cukup besar apalagi bagi kami yang sudah ditinggalkan Bapak. Akhirnya, gaji ibu sepenuhnya digunakan untuk melunasi hutang. Hanya uang lawatan lah yang membuat kami bertahan.

Sempat terbersit dalam pikiranku kenapa kita harus merayakan 40 harian Bapak? Untuk makan saja kami kesulitan. Kenapa harus menambah beban dengan memberikan makan kepada orang lain? Sayangnya pikiranku itu hanya ada di dalam otak. Tidak seperti Mas Wawan.

“Bu, kenapa to 40 harian Bapak harus dirayain? Kan buang-buang duit, Bu” kata Mas wawan kepada Ibu

Ibu dengan cepat menjawab, “Itu namanya adat, Le. Udah turun-temurun di dusun ini. Ra penak karo tangga-ne”

Mas wawan pun diam. Adat. Kami tidak tahu betul apa arti kata itu. Yang kami tahu adat itu tidak boleh dilanggar karena kata pak guru adat itu harus dijaga.

***

Hari ini tiga kali kentongan berbunyi di dusun kami. Tiga orang meninggal di hari yang sama. Yang satu seorang ibu pemilik kontrakan, yang kedua seorang pelajar SMA karena kecelakaan, dan yang ketiga seorang mbah-mbah kakung. Orang-orang menerka-nerka kutukan apa yang sedang terjadi ini. Salah apa mereka sampai harus dihukum seperti ini. Maklum saja, dusun kami saat itu masih percaya dengan hal-hal takhayul.

Karena kepercayaan itulah, orang-orang dusun lalu mengadakan suatu acara. Aku tidak tahu apa namanya yang jelas fungsinya untuk tolak bala dan memohon ampunan kepada penunggu dusun. Mereka sibuk menyiapkan berbagai macam makanan yang kebanyakan merupakan hasil dari sawah dan ladang mereka. Makanan ini nantinya adalah untuk sesajen. Setelah diadakan yasinan, sesajen itu lalu disebarnya di beberapa tempat di dusun yang katanya banyak penunggunya.

Ibuku juga termasuk salah seorang yang percaya. Menurut Ibu, itu artinya dusun kami sedang dihukum oleh alam. Dusun kami melakukan kesalahan dengan alam sehingga penunggu alam pun menghukum dusun kami. Lain cerita dengan Budhe Narto. Kata Budhe Narto, itu gara-gara wewe gombel marah karena tidak mendapat anak kecil untuk diculik jadi membunuh orang-orang.

Sebagai anak kecil, yang aku tahu berarti ada tiga upacara peringatan kematian. Ada tiga macam 7 harian sampai 1000 harian dalam waktu yang sama. Ada 7 harian ada makanan. Berarti ada banyak makanan. Benar saja, dalam satu hari ini ada 3 besek yang dikirim ke rumahku. Nampaknya untuk beberapa hari ke depan aku bisa makan enak dan terlepas dari kutukan. Kutukan kerupuk dan sambal, maksudku.

“Mas Wawan, alhamdulillah ya, kita bisa makan enak” kataku kepada Mas Wawan saat pulang sekolah bersama.

“Iya. Alhamdulillah yo. Seneng kowe, Wat?”

Aku mengangguk. Kami terdiam lagi. Tapi aku juga sedih kenapa harus banyak yang meninggal. Lama-lama aku pun jadi ikut mikirin apa kata orang dusun, apa bener ya dusun kita ini kena kutukan?

“Mas, kamu percaya nggak sama yang dikatain orang-orang kalo dusun kita ini kena kutukan?”

“Ora” jawab Mas Wawan dengan cepat dan yakin

“Kok mas yakin?”

Tentu saja aku heran. Persoalan yang berhubungan sama takhayul yang bikin orang ragu-ragu gini, dia malah yakin. Bukan apa-apa, lagian waktu itu kan kita masih anak-anak.

Mas Wawan tiba-tiba memasang muka serius, “kamu tau ndak, waktu itu aku doa sama Allah, biar ada orang yang meninggal di dusun”

“HAH?” seruku dengan kaget dan dengan sigap Mas Wawan menutup mulutku.

“Hush…ojo banter-banter!” kata Mas Wawan sambil melepas tangannya dari mulutku.

“Kok Mas Wawan berdoa kayak gitu to? Kan mesakke”

“Aku kan mung pengen mangan sing enak meneh. Bosen makan kok cuma kerupuk sambel. Aku juga kaget kok tau-tau langsung 3 orang yang meninggal”

Aku hanya bisa diam mendengarkan. Badanku terasa dingin semua.

“Aku kasian lihat ibu banyak ngeluarin duit. Kasian juga liat kita yang makan seadanya banget. Lagian kamu juga seneng kan kita bisa makan enak lagi?”

Aku cuma bisa diam. Tidak tahu harus bagaimana. Ya Allah….jadi semua ini karena doa Mas Wawan? Doa seorang anak yatim yang polos. Semua ini tetap menjadi rahasia antara aku dan Mas Wawan. Sampai saat ini.

 ***

“Iya Mas Wawan gnti nomer. Eh, Wat, kmu msih inget kan wktu kita kecil dulu, wktu kita hdup gak enak, aku prnah doa ada org yg meninggal? Kirain doa-ku wis ra mempan tapi kmaren aku nyobain doa kayak dulu lagi, terus tetangga kosan-ku meninggal, Wat”

 

Yogyakarta, 29 Juli 2013

(Pernah dimuat di Majalah Purakasastra Edisi 1)

(gambar : pixabay.com)